Menyekutukan Allah

“Dua hal janganlah Anda dekati. Menyekutukan Allah dan mengganggu (merugikan) orang lain.”

Riwayat tersebut tidak ada sumbernya. Memang ia sangat masy­hur dan menjadi pembicaraan dengan lafazh yang demikian. Namun, Al-Albani tidak mendapatkannya dalam kitab-kitab sunnah. Barangkali riwayat itu berasal dari kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam al­Ghazali 11/185, yang mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Dua hal yang tidak ada sesuatu kejahatan yang melebihinya, yaitu menyekutukan Allah dan memudharatkan (mengganggu) hamba­-hamba Allah. Dan dua hal yang tidak ada kebaikan yang melebihinya, yaitu iman kepada Allah dan memberi manfaat kepada hamba Allah.

Hadits tersebut tidak ada dan tidak diketahui sumbernya. Al-Iraqi dalam merinci riwayat tersebut mengatakan, “Riwayat tadi telah dipaparkan oleh penulis kitab al-Firdaus dari hadits Ali sedang anak­nya tidak menyandarkannya dalam musnadnya. Karena itu, as-Subuki menyatakan bahwa apa yang tercantum dalam Ihya riwayatnya tidak bersanad.

Kitab Iman:Pembicaraan Tentang Takdir (2)

Bersumber dari Yahya bin Ya’mar dan Humaid bin Abdirrah­man, mereka berkata: “Kami bertemu Abdullah bin Umar, lalu kami bicarakan tentang takdir dan apa yang orang-orang katakan mengenai takdir itu.” Selanjutnya diceritakan hadis seperti di atas yang bersumber dari Umar ra dari Nabi saw dengan sedikit penambahan dan pengurangan. (Hadits Shahih Muslim I/3)

Kitab Iman: Pembicaraan Tentang Takdir (1)

Bersumber dari Yahya bin Ya’mar, dia berkata: “Ketika Ma’bad melontarkan pembicaraannya mengenai persoalan takdir, kami mengingkari (tidak menyetujui) hal itu. Lalu aku dan Humaid bin Abdirrah­man Al Himyariy melakukan ibadah haji.” Dan disebutkan lanjutan hadis seperti di atas, dengan sedikit tambahan dan pengurangan (Hadits Shahih Muslim I/2)

Kitab Iman: Pengajaran Jibril Tentang Iman

Bersumber dari Yahya bin Ya’mar, dia berkata: “Orang pertama yang membicarakan tentang takdir (yang mempercayainya) di Basrah adalah Ma’bad Al Juhaniy. Lalu aku dan Humaid bin Abdirrahman Al Himyariy berangkat menunaikan ibadah haji (atau umrah). Kami ber­kata: “Seandainya kami sempat bertemu seorang di antara para shahabat Rasulullah saw, maka kami akan bertanya kepadanya tentang apa yang mereka katakan mengenai takdir. Harapan kami terkabul. Kebetulan Abdullah bin Umar bin Al Khaththab masuk ke mesjid. Aku dan teman­ku mendampinginya, seorang di sebelah kanannya dan seorang lagi di se­belah kirinya. Aku mengira temanku menyerahkan kepadaku untuk ber­bicara. Karena itu, aku berkata: ‘”Hai Abu Abdirrahman) Sesungguhnya telah muncul di hadapan kami, orang-orang yang membaca Al Qur’an dan mengumpulkan ilmu (dituturkannya sebagian keadaan mereka). Sa­yang, mereka tidak mempercayai takdir. Mereka menganggap semua hal berjalan begitu saja (tanpa ada ketentuan dan ilmu dari Allah. Dan hanya diketahui, sesudah terjadi)”. Ibnu Umar berkata: ‘Kalau engkau bertemu mereka, maka beritahukanlah kepada mereka, bahwa aku lepas tangan dari mereka dan merekapun lepas tangan dariku. Demi Dzat yang digunakan bersumpah oleh Abdullah bin Umar, seandainya salah seorang di antara mereka mempunyai emas segunung Uhud! yang dia nafkahkan, maka Allah tidak bakal menerimanya sebelum dia beriman kepada takdir”. Kemudian Ibnu Umar melanjutkan: “Bapakku – Umar bin Al Khath­thab menceritakan kepadaku: ‘”Ketika kami sedang duduk di hadapan Rasulullah saw. pada suatu hari, tiba-tiba muncul seorang lelaki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tak terlihat sedikit­pun bekas perjalanan padanya dan tak seorangpun di antara kami me­ngenalnya. Dia duduk di hadapan Rasulullah saw. Dia sandarkan kedua lututnya pada lutut Rasulullah dan dia letakkan kedua telapak tangan­nya di atas kedua pahanya, lalu berkata: “Hai MuhammadI Beritahu­kanlah kepadaku tentang Islam”.Rasulullah saw. bersabda: “Islam, yaitu hendaknya engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, berpuasa di bulan rama­dlan dan beribadah haji di Baitullah, jika engkau memang telah mampu menempuh di jalannya”.Orang itu berkata: “Engkau benar!”. Kata Umar: “Kami merasa heran kepada orang itu. Dia bertanya dan sekaligus membenarkannya”. Kembali orang itu berkata: ‘Beritahukanlah kepadaku tentang Iman’. Rasulullah saw. bersabda: ‘Hendaknya engkau beriman kepada Allah,kepada para malaikatNya, kitab-kitabNya, para utusanNya, dan Hari Akhir, serta beriman kepada takdir –baiknya takdir dan buruknya takdir.’Orang itu berkata: ‘Engkau benarl’, lalu lanjutnya: ‘Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan’. Rasulullah saw. bersabda: ‘Yaitu engkau menyembah (beribadah) Allah seolah-olah engkau melihatNya. Jika engkau tidak mampu berbuat se­olah-olah melihatNya, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu.’ Orang itu berkata: ‘Beritahukanlah kepadaku tentang Hari Kiamat’. Rasulullah saw. menjawab: ‘Tidaklah orang yang ditanya mengenai masalah tersebut, lebih tahu ketimbang orang yang bertanya’. Orang itu berkata: “Beritahukanlah kepadaku tentang tand-tanda hari kiamat itu”‘ Rasulullah saw. bersabda: ‘Yaitu bila telah ada budak perempuan me­lahirkan majikannya; jika engkau telah melihat orang-orang yang tadi­nya miskin papa, tidak beralas kaki, telanjang, menggembalakan kam­bing, menjadi kaya-kaya dan berlomba-lomba memperindah bangunan’. Kemudian orang itu berlalu. Rasulullah saw. diam sejenak, lalu bertanya kepadaku: ‘Hai Umar, tahukah kamu orang yang bertanya tadi?’ Aku menjawab: ‘Allah dan RasulNya lebih tahu’. Rasulullah saw. bersabda: ‘Dia adalah Jibril. Dia datang kepada kalian, untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (Hadits Shahih  Muslim I/1)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.